Ahad, 21 April 2013

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH


PENDAHULUAN

Nikmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia, merupakan pemberian yang terus menerus, dengan bermacam-macam bentuk lahir dan batin. Hanya manusia sajalah yang kurang pandai memelihara nikmat, sehingga ia merasa seolah-olah belum diberikan sesuatupun oleh Allah. Disebabkan ia tidak bersyukur kepada Allah dan tidak merasakan bahwa Allah telah memberi kepadanya sangat banyak dari permintannya.
Nikmat yang sangat besar bagi manusia adalah nikmat iman. Termasuk orang yang menyia-nyiakan nikmat Allah adalah orang yang menggunakan nikmat Allah tidak pada tempatnya, atau menggunakan nikmat Allah untuk kemaksiatan. Termasuk sifat yang angkuh terhadap Allah Swt jika ia merasa bahwa semua yang ada padanya adalah karena kepandaian dan keistimewaan diri manusia itu sendiri. Perasaan seperti ini memudarkan Tauhid dari dalam jiwanya. Oleh karena itu, kita sebagai makhluk Allah yang senantiasa mengharapkan keridhoan-Nya diharapkan diberi kesadaran dalam mensyukuri nikmat yang sungguh besar yang telah Allah berikan kepada kita.
Syukur berarti Memuji, berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada Allah atas karunia-Nya, bahagia atas karunia tersebut dan mencintai-Nya dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Allah telah memberikan apa yang telah diberikan-Nya kepada kita, seperti halnya semua alat indra kita serta nikmat kesehatan yang semua itu tidak bisa diukur dengan material kita. Akan tetapi bagaimana kita harus menyikapi pemberian yang Allah berikan kepada kita? Bahwasanya Allah menganjurkan kepada makhluknya untuk mensyukuri nikmat yang diberikan, yaitu dengan satu hal yang mungkin kadang manusia sendiri lupa apa yang menjadi kewajiban kita sebagai makhluk Allah, yaitu dengan menjalankan apa yang sudah ditetapkan seperti; Perintah untuk menjalankan shalat yang sudah ditentukan dalam Al-Qur’an dan Hadist, Puasa, Zakat dan lain sebagainya.
Perintah atau anjuran–anjuran tersebut diatas adalah merupakan alat ukur kita seberapa jauh kita dalam membalas rasa syukur, serta kenikmatan dalam hal kesehatan serta hal yang membuat kita mampu untuk memenuhi keinginan kita terhadap Allah. Akan tetapi tentu saja semua hal yang berkaitan kenikmatan di dunia semua itu merupakan hanya kenikmatan sementara yang nantinya akan diambil oleh Allah SWT.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kajian Tentang Nikmat Allah dan Cara Mensyukurinya
Sungguh betapa besar dan banyak nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu nikmat kemudian beralih kepada nikmat yang lain. Di mana kita terkadang tidak membayangkan sebelumnya akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karena tidak bisa untuk dibatasi atau dihitung dengan alat secanggih apapun di masa kini.
Semua ini tentunya mengundang kita untuk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dalam realita kehidupan, kita menemukan keadaan yang memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dalam keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncaknya adalah menyamakan pemberi nikmat dengan makhluk, yang keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah.
Syukur berarti ucapan sikap, dan perbuatan terimakasih kepada allah swt, dan penggakuan yang tulus atas nikmat dan karunia yang diberikannya. Nikmat yang diberikan sangat banyak dan bentuknya bermacam2,  disetiap detik yang dilalui maninusia tidak pernah lepas dari nikmat allah, nikmatnya sanggat besar. Sehingga mausia tidak akan dapat menghitungnya.
Sejak manusia lahir dengan keadaan tidak tahu apa2, kemudia diberikan pendengaran, penglihatan dan hati damai meninggal dunia menghadap allah diakhirat kelak dan ia tidak akan lepas dari nikmat allah.

B.     Hakikat bersyukur
Manusia adalah makhluk  ALLAH SWT yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan diciptakan  untuk menyembah hanya kepada-Nya seraya bersyukur atas hidup untuk mencapai kedudukan yang tertinggi di akhirat kelak. Jika kita fikir dahulunya kita tercipta dengan ilmu pengetahuan yang sedikit dan hanya bisa sedikit berbuat, kini kita memiliki banyak ilmu pengetahuan serta nikmat yang banyak. Lantas bagaimana kita tidak bersyukur? Sementara balasan yang dijanjikan ALLAH SWT apabila hambanya mensyukuri nikmat-Nya, adalah kenikmaatannya akan ditambah dan dilipat gandakan nikmat–nikmatnya yang lain. Sebagaimana ALLAH SWT berfirman  dalam (Q.S. Ibrahim : 7) yang berbunyi:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Artinya :Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Qs. Ibrahim:7)

Orang yang selalu bersyukur  ia akan selalu menginggat Allah SWT dalam berdiri, duduk, sampai tidurnyapun, dari bangun tidur sampai tidur lagi ia akan selalu berdzikir, dan tidurnya pun untuk mengumpulkan energi untuk besyukur atas niam (nikmat Allah SWT). Inilah hakikat syukur dari hati, akal,lisan dan jasad sebenarnya.
Nikmat  atau rezeki yang diterima adalah barokah Allah SWT, meskipun hanya kecil dan sedikit tetapi cukup dan menentramkan hati. Karena orang yang selalu bersyukur akan diberikan keidupan terasa menjadi tentram, damai, tenang, dan bahagia serta terhindar dari fitnah dan azab dunia serta akhirat

C.    Ayat al-Qur’an Tentang Nikmat Allah dan Cara Mensyukurinya
1.      Surat Al-Zukhruf Ayat 9 -13
a.       Teks Ayat
ûÈõs9ur OßgtFø9r'y ô`¨B t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur £`ä9qà)us9 £`ßgs)n=yz âƒÍyèø9$# ÞOŠÎ=yèø9$# ÇÒÈ  Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNà6s9 uÚöF{$# #YôgtB Ÿ@yèy_ur öNä3s9 $pkŽÏù Wxç7ß öNä3¯=yè©9 šcrßtGôgs? ÇÊÉÈ  Ï%©!$#ur tA¨tR šÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# Lä!$tB 9ys)Î/ $tR÷Ž|³Rr'sù ¾ÏmÎ/ Zot$ù#t/ $\Gø¨B 4 y7Ï9ºxx. šcqã_tøƒéB ÇÊÊÈ  Ï%©!$#ur t,n=y{ ylºurøF{$# $yg¯=ä. Ÿ@yèy_ur /ä3s9 z`ÏiB Å7ù=àÿø9$# ÉO»yè÷RF{$#ur $tB tbqç6x.ös? ÇÊËÈ  (#¼âqtGó¡tFÏ9 4n?tã ¾ÍnÍqßgàß ¢OèO (#rãä.õs? spyJ÷èÏR öNä3În/u #sŒÎ) ÷Läê÷ƒuqtGó$# Ïmøn=tã (#qä9qà)s?ur z`»ysö6ß Ï%©!$# t¤y $oYs9 #x»yd $tBur $¨Zà2 ¼çms9 tûüÏR̍ø)ãB ÇÊÌÈ 
b.      Terjemah Ayat: 
(09) Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".
(10) Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk.
(11)  Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti Itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).
(12) Dan yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi.
(13) Supaya kamu duduk di atas punggungnya Kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu Telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: "Maha Suci Tuhan yang Telah menundukkan semua Ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,

c.       Tafsir Ayat dan terjemahnya
ûÈõs9ur OßgtFø9r'y ô`¨B t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur £`ä9qà)us9 £`ßgs)n=yz âƒÍyèø9$# ÞOŠÎ=yèø9$# ÇÒÈ
}ولئن} لام قسم {سألتهم من خلق السماوات وَالْأَرْض لَيَقُولَنَّ} حُذِفَ مِنْهُ نُون الرَّفْع لِتَوَالِي النُّونَات وَوَاو الضَّمِير لِالْتِقَاءِ السَّاكِنَيْنِ {خَلَقَهُنَّ الْعَزِيز الْعَلِيم} آخِر جَوَابهمْ أَيْ اللَّه ذُو الْعِزَّة والعلم زاد تعالى
Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNà6s9 uÚöF{$# #YôgtB Ÿ@yèy_ur öNä3s9 $pkŽÏù Wxç7ß öNä3¯=yè©9 šcrßtGôgs? ÇÊÉÈ 
{الذي جعل لكم الأرض مهادا} فِرَاشًا كَالْمَهْدِ لِلصَّبِيِّ {وَجَعَلَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا} طُرُقًا {لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ} إلَى مَقَاصِدكُمْ فِي أَسْفَاركُمْ
Ï%©!$#ur tA¨tR šÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# Lä!$tB 9ys)Î/ $tR÷Ž|³Rr'sù ¾ÏmÎ/ Zot$ù#t/ $\Gø¨B 4 y7Ï9ºxx. šcqã_tøƒéB ÇÊÊÈ 
{وَاَلَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاء مَاء بِقَدَرٍ} أَيْ بِقَدْرِ حَاجَتكُمْ إلَيْهِ وَلَمْ يُنْزِلهُ طُوفَانًا {فَأَنْشَرْنَا} أَحْيَيْنَا {بِهِ بَلْدَة مَيْتًا كَذَلِكَ} أَيْ مِثْل هَذَا الْإِحْيَاء {تُخْرَجُونَ} مِنْ قُبُوركُمْ أَحْيَاء
Ï%©!$#ur t,n=y{ ylºurøF{$# $yg¯=ä. Ÿ@yèy_ur /ä3s9 z`ÏiB Å7ù=àÿø9$# ÉO»yè÷RF{$#ur $tB tbqç6x.ös? ÇÊËÈ 
{وَاَلَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاج} الْأَصْنَاف {كُلّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْك} السُّفُن {وَالْأَنْعَام} كَالْإِبِلِ {مَا تَرْكَبُونَ} حُذِفَ الْعَائِد اخْتِصَارًا وَهُوَ مَجْرُور فِي الْأَوَّل أَيْ فِيهِ مَنْصُوب فِي الثَّانِي
(#¼âqtGó¡tFÏ9 4n?tã ¾ÍnÍqßgàß ¢OèO (#rãä.õs? spyJ÷èÏR öNä3În/u #sŒÎ) ÷Läê÷ƒuqtGó$# Ïmøn=tã (#qä9qà)s?ur z`»ysö6ß Ï%©!$# t¤y $oYs9 #x»yd $tBur $¨Zà2 ¼çms9 tûüÏR̍ø)ãB ÇÊÌÈ 
{لِتَسْتَوُوا} لِتَسْتَقِرُّوا {عَلَى ظُهُوره} ذَكَرَ الضَّمِير وَجَمَعَ الظَّهْر نَظَرًا لِلَفْظِ مَا وَمَعْنَاهَا {ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَة رَبّكُمْ إذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَان الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مقرنين} مطيقين[1]

Ayat ke 9: (Dan sungguh jika) huruf Lam di sini bermakna Qasam (kamu tanyakan kepada mereka, "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Niscaya mereka akan menjawab,) dari lafal Layaquulunna terbuang Nun alamat Rafa'nya, karena jika masih ada, maka akan terjadilah huruf Nun yang berturut-turut, dan hal ini dinilai jelek oleh orang-orang Arab. Sebagaimana dibuang pula daripadanya Wawu Dhamir jamak, tetapi 'Illatnya bukan karena bertemunya dua huruf yang disukunkan ("Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui") jawaban terakhir mereka adalah, "Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahuilah yang menciptakan kesemuanya itu." Selanjutnya Allah swt. menambahkan:
Ayat ke 10: (Yang menjadikan bumi untuk kalian sebagai tempat menetap) sebagai hamparan yang mirip dengan ayunan bayi (dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kalian) dilalui (supaya kalian mendapat petunjuk) untuk mencapai tujuan-tujuan di dalam perjalanan kalian.
Ayat ke11: (Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar) yang diperlukan oleh kalian, dan Dia tidak menurunkannya dalam bentuk hujan yang sangat besar yang disertai dengan angin topan (lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah) sebagaimana cara menghidupkan itulah (kalian akan dikeluarkan) dari dalam kubur kalian lalu kalian menjadi hidup kembali.
Ayat ke 12: (Dan Yang menciptakan makhluk yang berpasang-pasangan) berbagai jenis makhluk berpasang-pasangan (semuanya, dan menjadikan untuk kalian kapal) atau perahu-perahu (dan binatang ternak) misalnya unta (yang kalian tunggangi) di dalam lafal ayat ini dibuang daripadanya Dhamir yang kembali kepada lafal Ma demi untuk meringkas, Dhamir tersebut adalah lafal Fihi maksudnya, yang dapat kalian kendarai.
Ayat ke 13: (Supaya kalian dapat duduk) tetap (di atas punggungnya) Dhamir yang ada pada ayat ini dimudzakkarkan, dan lafal Zhahr dikemukakan dalam bentuk jamak sehingga menjadi Zhuhur; hal ini karena memandang makna yang terkandung di dalam lafal Ma (kemudian kalian ingat nikmat Rabb kalian apabila kalian telah duduk di atasnya dan supaya kalian mengatakan, "Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya) tidak dapat menguasainya.

d.      Penjelasan Ayat
Ayat ke 9, menurut Abu Ja’far Muhammad maksud ayat ini adalah jika kamu tanyakan hai Muhammad kepada orang-orang Musyrik dari kaummu itu, “Siapa yang menciptakan langit dan bumi, mengadakan dan membentuknya?” Niscaya mereka menjawab, “Semuanya diciptakan oleh yang maha Perkasa dalam pengaruh kekuasaan dan balasan-Nya terhadap musuh-musuhNya, yang maha mengetahui semua ciptaan itu dengan segala yang ada di dalamNya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagiNya.[2] 
Sedangkan Menurut Syekh Imam AL-Qurtubi dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang-orang kafir pun mengakui bahwa pencipta langit dan bumi beserta isinya adalah Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, namun demikian mereka menyembah selain Allah dan mengingkari kekuasaan-Nya.[3]
Penjelasan ayat ke 10, maksudnya adalah Allah yang menjadikan bumi terhampar bagimu. Dia menjadikan bumi bagimu pijakan yang dapat kamu pijak dengan telapak kakimu dan kamu dapat berjalan di atasnya dengan kakimu. Allah membuatkan jalan-jalan yang landai di atas bumi, yang dapat kamu tempuh dari satu negeri ke negeri lain untuk keperluan penghidupan dan pendengaranmu.[4]
Sedangkan menurut Syekh Imam Al-Qurtubi bahwa ayat ini menjelaskan bahwa Allah menyifati Dzat-Nya yang maha suci dengan kekuasaan yang sempurna. Firman Allah ini merupakan awal pemberitahuan dari Allah tentang dzatNya. Supaya kalian mengakui nikmat Allah yang diberikan kepada kalian dan supaya kalian mendapat petunjuk menuju penghidupan kalian.[5]
Ayat ke 11 dan 12, maksudnya adalah bahwa Allah menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan), artinya menurut Ibnu Abbas yang dikutip oleh AL-Qurtubi yakni air yang diturunkan itu bukan seperti air yang diturunkan kepada kaum nabi Nuh yang tidak menurut ukuran yang diperlukan sehingga air itu menenggelamkan mereka. Akan tetapi air yang diturunkan itu sesuai dengan kadar yang diperlukan, bukan berupa badai yang menenggelamkan bukan pula kurang dari apa yang dibutuhkan sehingga ia dapat menjadi penghidupan bagi kalian dan binatang ternak kalian.[6]
Ayat 12 dan 13 maksudnya adalah Dia yang menciptakan segala sesuatu, lantas menjadikannya berpasang-pasangan yaitu dengan menciptakan perempuan sebagai pasangan laki-laki, dan menciptakan laki-laki sebagai pasangan perempuan. …وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْقِ maksudnya adalah bahwa Allah menjadikan kapal-kapal bagimu yang dapat kamu kendarai di laut kea rah yang kamu kehendaki dalam perjalananmu di laut untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidupmu. Sedangkan hewan ternak dapat kamu kendarai di darat ke arah manapun yang kamu tuju, seperti unta, kuda, bighal dan keledai.[7]لِتَسْتَوُوْا عَلى ظُهُوْرِهِ supaya kamu dapat berada di atas punggung hewan yang kamu kendarai. Kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu yang dianugerahkan kepadamu, berupa ditundukannya semua fasilitas kendaraan itu bagimu di darat dan di laut.[8]
Berdasarkan ayat, terjemah dan tafsir ayat tersebut di atas, timbullah sebuah kegelisahan intelektual pada diri penulis mencoba mengkaji, menyimak dan menyimpulkan deretan penjelasan di atas bahwa orang musyrik sekalipun mengakui bahwa yang member nikmat itu adalah Allah. Banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia, bumi sebagai tempat hidup manusia dengan berbagai sarananya. Hujan (air yang turun dari langit) sebagai sumber kehidupan. Dengan air, tanah yang gersang menjadi subur. Kemudian Allah juga menciptakan pasangan semua hal yang Dia ciptakan. Ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan, ada panas ada dingin, ada positif ada negatif dan seterusnya. Semua itu merupakan bagian dari nikmat Allah yang diberikan kepada makhluknya khususnya manusia. Nikmat-nikmat itu diberikan kepada manusia agar mereka dapat hidup sejahtera. Dengan nikmat yang diberikan Allah, sewajarnya manusia selalu mengingat nikmat itu dari mana datangnya, sehingga tidak menjadi manusia yang kafir (mengingkari nikmat). Bagi yang memiliki binatang ternak, tumbuhan (kebun atau lading) dan atau penghasilan lebih harus mengeluarkan hak untuk fakir miskin dan sebagainya. 
  

2.      Surat Al-Ankabut Ayat 17
a.       Teks Ayat
$yJ¯RÎ) šcrßç7÷ès? `ÏB Èbrߊ «!$# $YZ»rO÷rr& šcqà)è=øƒrBur %¸3øùÎ) 4 žcÎ) tûïÏ%©!$# šcrßç7÷ès? `ÏB Èbrߊ «!$# Ÿw šcqä3Î=ôJtƒ öNä3s9 $]%øÍ (#qäótGö/$$sù yZÏã «!$# šXøÎh9$# çnrßç6ôã$#ur (#ráä3ô©$#ur ÿ¼ã&s! ( Ïmøs9Î) šcqãèy_öè? ÇÊÐÈ 
b.      Terjemah Ayat :
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan.

c.       Tafsir Ayat
}إنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُون اللَّه} أَيْ غَيْره {أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إفْكًا} تَقُولُونَ كَذِبًا إنَّ الْأَوْثَان شركاء لله {إنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُون اللَّه لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا} لَا يَقْدِرُونَ أَنْ يَرْزُقُوكُمْ {فابتغوا عند الله الرزق} اطلبوه منه {واعبدوه واشكروا له إليه ترجعون{ [9]
17. (Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu) (adalah berhala-berhala, dan kalian membuat dusta) kalian mengatakan kebohongan, bahwa berhala-berhala itu adalah sekutu-sekutu Allah. (Sesungguhnya yang kalian .sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian) maksudnya mereka tidak akan mampu memberi rezeki kepada kalian (maka mintalah rezeki di sisi Allah) yakni mintalah rezeki itu kepada-Nya (dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan).
d.      Penjelasan Ayat
Pada mulanya ayat 17 surah al-Ankabut ini, menceritakan umat Nabi Ibrahim yang tidak mau menyembah Allah. Bahkan mereka menyembah patung-patung buatan mereka sendiri. Dengan demikian Allah menjelaskan bahwa patung-patung atau lainnya yang mereka sembah selain diri-Nya, tidak bias berbuat apa-apa. Apalagi memberi rezeki untuk kehidupannya. Hanya dari sisi Allahlah rezeki itu didapat. Oleh karena itu sehrusnya mereka hanya menyembah Allah dan bersyukur kepada-Nya, sebab mereka pun akan dikembalikan kepada-Nya.
M.Quraish Shihab mengatakan bahwa ayat tersebut adalah teguran kepada umat Nabi Ibrahim, yang menyembah berhala-berhala untuk mengharap mendapat rezeki dari apa yang disembahnya. Lalu ditegaskan bahwa berhala-berhala itu tidak mampu memberikan rezeki dan tidak patut untuk disembah. Sebagaiman Allah menggunakan kata ”rizqoo” yang konteks kalimatnya adalah menafikan kemampuan berhala.[10]
Kemudian Allah menggunakan kalimat “fabtaghuu” artinya mintalah. Dan “arrizqi´ artinya rezeki secara umum (segala bentuk rezeki). Dan adanya penambahan huruf ”ta” pada kalimat “fabtaghuu” digunakan sebagai penegasan bahwa untuk mendapatkan rezeki Allah itu hendaknya dengan berusaha sungguh-sungguh. Di ayat itu juga Allah mempertegas agar kita menyembahnya, karena hanya Dia yang patut disembah. Dia yang memberikan segala rezeki kepada oleh karena itu Allah melanjutkan firman-Nya dengan perintah untuk mensyukurinya. .[11]
Di ujung ayat terdapat kata “wasykuruulah” dan bersyukurlah kepada-Nya. Ayat inilah yang menegaskan kepada kita untuk mensyukuri segala rezeki yang telah diberikan oleh Allah. Baik nikmat/rezeki yang langsung diberikan Allah tanpa diminta dan diusahakan seperti pemberian nyawa (ruh), anggota tubuh, maupun rezeki/nikmat yang diminta dan diusahakan terlebih dahulu seperti harta dan benda, uang, kesehatan dan lain sebagainya.
Adapun lebih jelas lagi kandungan ayat tersebut adalah adanya perintah Allah. Mengandung 3 perintah yaitu menyembah Allah, meminta rezki hanya kepada Allah dengan berusaha sungguh-sungguh dan mensyukuri segala rezeki yang diberikan Allah.
Walaupun ayat tersebut merupakan sebuah teguran dan nasihat Allah kepada umat Nabi Ibrahim AS, namun menurut Moh.Matsna kandungan ayatnya ditujukan kepada umat manusia agar menyembah dan bersyukur hanya kepada Allah swt yang telah banyak memberikan nikmat/rezeki.[12]
Begitu banyak nikmat yang telah kita terima dari Allah SWT. Negara ini telah mendapatkan nikmat lahan yang subur, kandungan sumber daya alam melimpah, dan masyarakat Muslim yang sangat banyak. Diri-diri kita telah mendapatkan nikmat hidup berkecukupan, anak-anak yang sehat dan cerdas, pasangan hidup yang beriman. Bukan itu saja, masih banyak nikmat-nikmat yang lain, yang jika kita mencoba menghitungnya, niscaya tidak akan mampu. Allah SWT berfirman:
bÎ)ur (#rãès? spyJ÷èÏR «!$# Ÿw !$ydqÝÁøtéB 3 žcÎ) ©!$# Öqàÿtós9 ÒOÏm§ ÇÊÑÈ 
Artinya :Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS An Nahl : 18).
Oleh karena itu, dengan berpedomankan Al-Qur’an surah al-Ankabut ayat 17 di atas, kita patut dan bahkan wajib sekali untuk bersyukur kepada Allah. Apalagi perintah ini dipertegas oleh Allah dalam Al-Qur’an surah al-Kautsar “Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbnlah.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan manusia untuk mensyukuri nikmat Allah swt. Secara garis besar, mensyukuri nikmat ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1.      Mensyukuri dengan hati, dengan mengakui, mengimani dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan ini datangnya dari Allah swt semata.
2.      Mensyukuri dengan lisan, dengan memperbanyak ucapan alhamdulillah (segala puji milik Allah) wasysyukru lillah (dan segala bentuk syukur juga milik Allah).
3.      Mensyukuri dengan perbuatan.
a.       Mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah untuk menunaikan perintah-perintah Allah, baik perintah wajib, sunnah maupun mubah.
b.      Mempergunakan segala bentuk kenikmatan Allah dengan cara menghindari, menjauhi dan meninggalkan segala bentuk larangan Allah, baik larangan yang haram maupun yang makruh.

Syukur dengan hati, lisan dan perbuatan ini hendaklah terefleksi dan tercermin pada setiap momentum yang bersifat zhahir, bahkan yang tersamar sekalipun. Contoh cerminan sikap mensyukuri nikmat Allah yang tampak secara lahir ini dapat dilihat dalam sikap Nabi Sulaiman as saat ia mendapati singgasana Bilqis telah ada di sampingnya dalam sekejap mata. Saat itu Nabi Sulaiman langsung berkata, "Ini adalah anugerah Allah. Dia bermaksud mengujiku, adakah aku bersyukur ataukah aku kufur." (QS An-Naml: 40)
Juga tampak dari sikap Raja Dzulqarnain yang sukses membangun radm (semacam benteng) untuk menghalau serbuan Ya'juj Ma'juj. Setelah sukses besar yang luar biasa ini, ia tidak menisbatkan prestasi spektakulernya itu kepada dirinya, akan tetapi menisbatkannya kepada Allah. Ia berkata, "Ini adalah rahmat dari Tuhanku." (QS Al-Kahfi: 98)
Sikap yang sebaliknya ditunjukkan oleh Qarun. Saat ia ditanya oleh kaumnya tentang sukses bisnisnya, ia tidak menisbatkan sukses itu kepada Allah. Dengan penuh 'ujub, sombong dan takabbur ia berkata, "Semua ini aku dapatkan semata-mata karena ilmuku, kepintaranku, kepiawaianku" (QS Al-Qashash: 78). Karena itulah ia diazab Allah.

Selain itu, penegasan Allah terkait ayat 17 surah al-Ankabut tersebut, Allah telah berfirman, sebagaimna dalam QS.An-Nahl ayat 114:
(#qè=ä3sù $£JÏB ãNà6s%yu ª!$# Wx»n=ym $Y7ÍhsÛ (#rãà6ô©$#ur |MyJ÷èÏR «!$# bÎ) óOçFZä. çn$­ƒÎ) tbrßç7÷ès? 
Artinya:  “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah Allah.”
Ayat di atas mengajarkan kepada kita agar pandai-pandai mensyukuri nikmat Allah yaitu dengan diiringi peraturan tentang makanan yang halal dan baik bukan makanan yang haram. Makanan yang halal adalah makanan yang secara materi boleh dikonsumsi menurut hukum Islam dan diperoleh dengan cara yang sesuai dengan ajaran Islam. Karena bisa jadi jenis makanannya halal, akan tetapi diperoleh dengan cara yang melanggar ajaran Islam, maka makanan tersebut jadi haram.

D.    Hadits Tentang Nikmat Allah dan Cara Mensyukurinya
1.      Teks Hadits Tentang Nikmat Allah
a.       Teks Hadits
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا النَّعِيمِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، ثُمَّ لَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَابَكُمْ هَذَا النَّعِيمُ  (رواه مسلم)[13]
b.      Terjemah Hadits
Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Bakar dan Umar ra. Demi dzat yang diriku ada di bawah kekuasaan-Nya, hari kiamat nanti kamu semua akan ditanyakan (dimintai pertanggungjawaban) tentang nikmat ini, (semula) rasa lapar itu telah mendorong kamu untuk keluar rumah, sehingga kamu belum mau kembali sebelum memperoleh nikmat ini (HR. Muslim)

c.       Penjelasan Hadits
Dalam hadits tersebut Rasulullah saw. menjelaskan bahwa setiap nikmat yang kita peroleh dari Allah dengan jalan usaha kita, akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Pertanggungjawaban nikmat/rezeki itu berkisar dari mana nikmat/rezeki itu diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya, dan bagaimana cara memperoleh nikmat itu.[14]

2.      Hadits Tentang Cara Mensyukuri Nikmat
a.       Teks Hadits
وحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، ح وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، وَوَكِيعٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ[15]

b.      Terjemah Hadits
Rasulullah saw. bersabda lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari pada kamu dan janganlah kamu melihat orang yang di atasmu. Maka hal itu lebih baik untuk tidak meremehkan nikmat Allah atasmu. (Muutafaq ‘Alaih)

c.       Penjelasan Hadits
Dalam hadits di atas, nabi menyuruh kaum muslimin agar memandang orang memandang orang yang berada di bawah mereka, baik mengenai bentuk dan rupa tubuhnya, kesehatan dan kesejahteraannya, harta dan kekayaannya maupun yang lain-lainnya. Dengan cara demikian, mereka akan merasa beruntung dan lebih baik keadaan mereka dibandingkan dengan yang dibawah standar nasib mereka. Sebaliknya nabi saw. melarang kaum muslimin memandang orang yang di atas mereka sebab dapat menimbulkan rasa kecil hati dan rendah diri dan bahkan bukan mustahil dapat menimbulkan rasa kecewa, menyesal diri dan mungkin timbul persangkaan yang buruk kepada Allah swt. bahwa Dia tidak memperhatikan keadaan dirinya atau pilih kasih dalam pemberian nikmat. Kaum muslimin dibenarkan melihat orang yang lebih tinggi derajatnya, khusus dalam masalah ketaatan kenjalankan agama (dalam hal kebaikan yang bernilai agama) atau dalam menuntut ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan yang bernilai agama.[16]    
























BAB III
PENUTUP

a.      Kesimpulan 
Bersyukur berarti kita mensyukuri apa yang diberikan ALLAH SWT kepada kita dengan kekuatan iman dan meyakini bahwa segala sesuatu tidak ada yang sia- sia. Kita dapat mensyukuri nikmat dengan cara berdzikir, dengan lisan kita dapat mengucapkan alhamdulilla, dengan hati yaitu meyakini bahwa segala bentuk nikmat & berkah datangnya semata hanya dari ALLAH SWT dan kita dapat mensyukuri nikmat ALLAH SWT dengan perbuatan kita dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Segala bentuk syukur kita merupakan rasa terimakasih kita kepada ALLAH SWT,  dan manusia yang tidak mau bersyukur  maka ia akan rugi karena ALLAH SWT tidak membutuhkan rasa syukurpun dia tidak akan dirugikan yang pada dasarnya ALLAH SWT maha kaya akan sesuatu melainkan orang yang bersyukur ia mensyukuri untuk dirinya sendiri.

b.      Pesan dan saran
Demikianlah makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat dan memberikan pencarahan bagi kita khusunya dalam bersyukur dan dapat membangkitkan kembali semagat untuk bersyukur. Kami sangat membutuhkan pesan dan saran pembaca apabila makalah yang kami buat memiliki kekurangan dalam menyusun, agar untuk kedepannya akan lebih baik dari ini.










DAFTAR PUSTAKA

-        Abu Ja’far, Muhammad, Tafsir Ath-Thobari, (penerjemah Misbah Abdul Somad), Pustaka Azzam, Jakarta, 2009;
-        Al-Jalalain, As-Shuyuthi, Al-Mahalli, Tafsir Jalalain
-        Al-Qurtubi, Syekh Imam, Tafsir Al-Qurtubi, (Penerjemah Akhmad Khotib), Pustaka Azzam, Jakarta, 2009;
-        Departemen Agama RI, Al-Hikmah AL-Qur’an dan terjemahnya, Diponegoro, Bandung, 2004;
-        Matsna, Mohammad, Pendidikan Agama Islam Al-Qur’an Hadits, Karya Toha Putra, Semarang, 2009;
-        Muslim, Al-Imam, Shohih Muslim Shihab, M. Quraisy, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an), Lentera Hati, Jakarta 2002;




[1] تفسير الجلالين (ص: 648)
[2] Abu Ja’far Muhammad, Tafsir Ath-Thobari, Penerjemah Misbah Abdul Somad, Abdurrahim Supandi, (Jakarta, Pustaka Azzam, 2009) hal. 964
[3] Syekh Imam al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi, Penerjemah Ahmad Khotib, (Jakarta, Pustaka Azzam, 2009), hal.160
[4] Abu Ja’far Muhammad, Op. Cit, hal. 964
[5] Syekh Imam al-Qurtubi, Op. Cit, hal. 160-161
[6] Ibid, hal. 161-162
[7] Abu Ja’far Muhammad, Op. Cit, hal. 967-968
[8] Ibid, hal. 968-970
[9] تفسير الجلالين (ص: 522)
[10] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Pesan dan Kesan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta, Lentera Hati, 2002), hal. 461
[11] Ibid, hal 462
[12] Moh. Matsna, Pendidikan Agama Islam (Karya Toha, Semarang, 2009) hal.10
[13]( صحيح مسلم (3/ 1609

[14] Moh. Matsna, Op. Cit, hal.8
[15] صحيح مسلم (4/ 2275)
[16] Moh. Matsna, Op. Cit. hal. 12

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Catat Ulasan